Barang Usang
Kalau diingat-ingat, aku punya beberapa barang tua yang sebenarnya udah usang banget, tapi tetap aja nggak bisa aku tinggalkan, apalagi dibuang. Bukan karena nggak ada duit buat beli yang baru, tapi ada alasan lain yang bikin aku tetap nempel sama barang-barang itu.
Ada barang-barang yang kalau dilihat tuh bikin ingat momen-momen penting. Misalnya, aku masih pakai jam tangan tua peninggalan almarhum ayahku. Meski kacanya udah retak, tapi jam ini jadi pengingat beliau. Rasanya kayak masih diawasin beliau setiap kali aku jam tua itu aku pakai. Barang kayak gini nggak tergantikan, karena lebih dari sekadar benda, tapi penuh kenangan.
Kalian juga pasti punya barang yang udah jelek tapi rasanya paling nyaman. Aku, misalnya, punya kaus yang warnanya udah pudar dan bolong-bolong di bagian bawah. Tapi entah kenapa, kaus itu yang selalu aku cari kalau lagi santai di rumah. Kalau pakai yang baru malah rasanya kaku dan nggak enak. Kadang kenyamanan itu lebih penting daripada penampilan.
Dan satu lagi, Ini mungkin kedengeran lebay, tapi aku merasa ada ikatan khusus sama beberapa barangku. Contohnya, gitar yang aku beli bertahun-tahun lalu. Meski sekarang dawai-dawainya udah karatan, aku tetap mainin karena gitar itu udah nemenin banyak momen hidupku. Kalau aku ganti gitar baru, rasanya nggak bakal sama aja.
Kesimpulannya, sih, untuk sebagian orang barang usang itu punya arti yang lebih dari sekadar fungsi. Ada cerita, rasa nyaman, dan hubungan emosional yang bikin susah buat ninggalinnya.