Buru-Buru Nikah
Alasan yang sering dilontarkan orang-orang yang 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘶𝘴𝘵𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 pernikahan di usia muda adalah; 𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘻𝘪𝘯𝘢, 𝘉𝘳𝘰! Alasan yang mulia, sih, tapi apakah menjauhi zina itu hanya bisa dilakukan dengan menikah? Terlebih lagi menikah tanpa 𝙗𝙚𝙠𝙖𝙡 yang cukup.
Fenomena seperti ini sering kulihat di sekitarku. Banyak teman-teman atau kenalan yang memilih menikah cepat karena alasan agama atau dorongan norma sosial. Mereka selalu berargumen pernikahan adalah solusi untuk menghindari 𝗽𝗲𝗿𝗴𝗮𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀. Tapi menurutku, menikah terlalu muda justru bisa membawa masalah baru yang nggak selalu disadari sejak awal.
Di masyarakat kita, menikah muda terjadi karena beberapa alasan. 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, ada tekanan budaya dan agama yang kuat. Banyak orang tua lebih tenang kalau anak-anak mereka menikah daripada berisiko terlibat 𝗵𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗹𝘂𝗮𝗿 𝗻𝗶𝗸𝗮𝗵. 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, lingkungan sekitar juga bisa jadi faktor. Aku sering melihat teman yang merasa tertekan karena teman-temannya yang lain sudah menikah duluan, jadi mereka 𝗶𝗸𝘂𝘁-𝗶𝗸𝘂𝘁𝗮𝗻 tanpa mempertimbangkan apakah mereka benar-benar siap atau tidak.
Mereka sering kali lupa bahwa pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng. Berkaca dari lingkungan sekitarku dulu waktu masih tinggal di Banjarmasin, banyak pasangan yang menikah muda meski belum sepenuhnya siap secara mental, apalagi 𝗳𝗶𝗻𝗮𝗻𝘀𝗶𝗮𝗹. Mereka belum tahu seberapa besar 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘄𝗮𝗯 dalam pernikahan. Akibatnya, banyak pernikahan yang nggak bahagia, bahkan berakhir dengan perceraian. Menikah muda biasanya juga menghentikan pendidikan. Beberapa teman yang menikah muda harus berhenti kuliah, dan ini jelas menghambat masa depan mereka, baik dari segi karier maupun ekonomi.
Aku juga melihat banyak pasangan muda yang kewalahan dengan tekanan emosional. Tanggung jawab yang tiba-tiba besar datang ketika mereka masih belajar 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 diri mereka sendiri. Bayangkan, kalian yang masih bingung dengan 𝗷𝗮𝘁𝗶 𝗱𝗶𝗿𝗶 kalian sendiri tiba-tiba disuguhkan tanggung jawab besar seperti 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗶𝗺𝗯𝗶𝗻𝗴 𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗻𝗮𝗸, ini bisa menyebabkan stres dan ketidakstabilan dalam rumah tangga.
Lalu, kalau bicara soal alasan menikah untuk menghindari zina, menurutku itu nggak sepenuhnya masuk akal dan malah terkesan 𝗲𝗴𝗼𝗶𝘀. Menikah seharusnya bukan hanya untuk menghindari dosa, tapi juga tentang komitmen dan kesiapan mental 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝘀𝘂𝗮𝗺𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶. Kalau menikah cuma karena takut berbuat dosa, bisa jadi pernikahan itu nggak berlandaskan 𝗸𝗼𝗺𝗶𝘁𝗺𝗲𝗻 yang kuat yang ujung-ujungnya hanya akan menimbulkan masalah dan luka bagi banyak pihak. Luka di pihak suami, luka di pihak istri, luka di keluarga suami, luka di keluarga istri, luka bagi anak 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬. Ribet pokoknya.
Kesimpulannya, menikah muda dengan alasan menjauhi zina bukanlah solusi yang bijak. Menikah itu butuh kesiapan, bukan cuma soal mental, tapi juga finansial. Menurutku, penting untuk benar-benar mempertimbangkan segalanya sebelum mengambil keputusan besar ini. Menikah itu bukan lagi soal hidup 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗯-𝗺𝘂, menikah itu juga soal orang tuamu, orang tua istrimu, dan anakmu 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞.