Dunia dan Akhirat
Ada yang bilang kalau mencari uang itu tidak sepenting mendekatkan diri kepada Tuhan, atau kalau harta dunia hanya sementara. Nggak salah, sih, kita diajarkan untuk tidak terobsesi dengan materi, tapi sepertinya beberapa orang justru memanfaatkan ajaran ini untuk menutupi kemalasan mereka.
Aku mengenal satu orang seperti itu. Namanya sering kudengar di lingkaran pertemanan, bukan karena prestasinya, tapi karena kelakuannya yang selalu mencari celah untuk menghindari usaha keras. Setiap kali diajak berdiskusi soal mencari penghasilan, jawabannya selalu melibatkan dalil-dalil agama. Katanya, Rezeki sudah diatur, atau Lebih baik fokus ibadah daripada mengejar dunia.
Tidak ada yang salah dengan ibadah atau keyakinan akan rezeki yang sudah diatur. Tapi, kalau cuma jadi alasan untuk duduk-duduk tanpa usaha, apa itu bisa dibenarkan? Aku berpikir, bukankah dalam agama juga diajarkan untuk bekerja keras dan berusaha? Bukankah Nabi kita sendiri bekerja dan mendorong umatnya untuk rajin?
Ketika ditanya kenapa dia tidak mencari pekerjaan atau mencoba usaha kecil-kecilan, dia selalu punya jawaban yang seolah-olah dia lebih tahu soal agama daripada yang lain. Padahal, kita semua tahu, sebenarnya dia hanya mencari alasan untuk tetap nyaman tanpa harus berusaha.
Aku bukannya meremehkan orang yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Tapi, di mana letak tanggung jawab kita sebagai manusia? Agama seharusnya menjadi pedoman, bukan tameng untuk menghindari kewajiban sosial dan pribadi. Aku berharap orang seperti ini bisa introspeksi, bahwa bekerja dan berusaha bukan hanya tuntutan dunia, tapi juga bagian dari ibadah.