Memberikan Label Pada Manusia
Aku sering melihat dan mendengar orang-orang menggunakan berbagai label untuk melabeli diri mereka sendiri maupun orang lain. Orang sering kali mengkategorikan dan melabeli diri mereka sendiri sesuai dengan apa yang mereka yakini bisa menggambarkan personaliti mereka dan orang lain, seperti seperti pemalu, berani, introvert, atau ekstrovert. Tidak jarang, label-label ini juga berkaitan dengan keyakinan atau identitas sosial, seperti religius, ateis, atau feminist.
Menurutku pribadi, label-label tersebut sering kali terlalu dangkal dan tidak masuk akal. Label-label ini hanya menangkap satu aspek dari diri seseorang dan sering kali tidak bisa mewakili individu secara keseluruhan. Misalnya, seseorang yang diberi label pemalu mungkin sebenarnya sangat percaya diri dalam situasi tertentu atau memiliki bakat lain yang tidak terlihat. Satu label seperti itu tidak bisa mencerminkan aspek-aspek lain dari kehidupan dan kepribadian seseorang, seperti hobi, nilai-nilai, atau cara pandang mereka terhadap dunia secara keseluruhan.
Yang paling menyebalkan adalah ketika aku atau orang lain menerima perlakuan judgemental dari orang lain berdasarkan label superstisius yang tidak masuk akal. Ketika orang lain menilai kita hanya berdasarkan label-label tertentu, mereka cenderung mengabaikan kompleksitas dan kedalaman dari siapa kita sebenarnya. Perlakuan seperti ini sangat tidak adil dan dapat menimbulkan rasa frustrasi dan penolakan. Aku merasa setiap individu adalah entitas yang unik dengan berbagai pengalaman, pemikiran, dan perasaan yang tidak dapat disederhanakan menjadi satu atau dua label saja. Manusia memang se-rumit itu.