Menulis itu Lebih Baik Ketimbang Berbicara
Kenapa seperti itu? Aku punya alasan tersendiri. Menurutku pribadi setiap kata yang aku tulis di layar laptopku merupakan sarana menuangkan pikiran yang jauh lebih efektif dan lengkap ketimbang ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ถ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ. Dalam setiap hurufnya, tersimpan gagasan yang ingin kusampaikan dengan jelas, tanpa gangguan atau interupsi. Menulis memungkinkanku untuk merenung dan menyusun kata-kata yang tepat, sehingga pesan yang ingin aku sampaikan bisa dimengerti dengan baik oleh siapapun itu yang cukup ๐๐ถ๐ฎ๐น membaca tulisan-tulisan gerutuanku ini.
Berbeda dengan ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ถ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ. Komunikasi lisan itu banyak batasannya. Waktu dan situasi, misalnya. Sering sekali aku menemukan diriku dalam sebuah keadaan dimana ada satu gagasan atau buah pikir yang ingin aku sampaikan, tapi tidak bisa diutarakan dengan baik karena batasan waktu dan situasi tadi. Nah, aku tidak perlu memusingkan batasan ini ketika aku menulis. Menulis memberikanku kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide tanpa batas. Aku dapat kembali mengulang, merevisi, dan memperbaiki apapun itu yang aku coba tuang dalam sebuah tulisan, hingga mencapai bentuk yang menurutku ๐ฝ๐ฎ๐น๐ถ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐บ๐ฝ๐๐ฟ๐ป๐ฎ.
Menulis juga sebuah bentuk pencarian jati diri bagiku. Dalam setiap paragraf yang kutulis, aku merasa lebih dekat dengan diriku sendiri. Menulis membantuku untuk lebih memahami siapa aku sebenarnya dan apa yang terjadi di sekitarku. Setiap kata yang kutuliskan adalah cerminan dari pikiranku, pandanganku, dan perasaanku.
Saat menulis, aku dapat berhenti sejenak dan menghubungkan diri dengan hal yang benar-benar penting. Semacam bentuk ๐ฒ๐๐ฐ๐ฎ๐ฝ๐ถ๐๐บ, lah, dari dunia yang apa-apa semakin cepat ini. Terlalu cepat malah hingga tidak ada waktu untuk bernafas lagi. Dengan menulis, aku serasa mempunyai kesempatan untuk menjeda dan memutarbalikkan roda waktu, menilik kembali kejadian-kejadian di masa lampau dan mencoba belajar dari kesalahan yang sudah-sudah. ๐ง๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด aku cekikan sendiri ketika menuliskan kembali tabiat-tabiat konyol dan kesalahan ๐ฏ๐ผ๐ฑ๐ผ๐ต yang aku lakukan selama 19 tahun masa hidupku.
Bagiku, menulis itu memang media menuangkan isi kepala yang paling ๐ธ๐ผ๐บ๐ฝ๐น๐ถ๐. Ketika menulis, aku tidak hanya berusaha membuat pembacaku mengerti tentang apa yang aku rasakan, alami, dan lihat. Aku jugaย melihat ke dalam diriku sendiri dan mencoba lebih memahami tentang apa yang aku ingin sampaikan kepada mereka. Dan itu lah kenapa, menurutku, ๐บ๐ฒ๐ป๐๐น๐ถ๐ lebih baik ketimbang ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ถ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ.