Bill by Day

Salah dan Benar

Bercakap-cakap singkat tentang apa itu benar dan salah dengan teman-teman di grup Telegram dini hari kemarin membuatku berpikir. Aku sering merasa terjebak dalam labirin pemikiran tentang apa yang benar dan apa yang salah.

Di satu sisi, aku dibesarkan dalam lingkungan yang secara jelas mendikte apa yang harus kuanggap benar, apa yang harus kuanggap salah. Masyarakat di sekitarku begitu tegas memberi batasan, seolah-olah dunia ini hanya terdiri dari dua warna: hitam dan putih. Namun, semakin aku mencoba mengikuti aturan-aturan itu, semakin aku merasa terasing dari diriku sendiri.

Aku mulai menyadari bahwa definisi benar dan salah yang dijunjung oleh masyarakat ini terasa semakin usang. Apa yang dulu mungkin dianggap sebagai kebenaran mutlak kini tampak seperti bayangan dari masa lalu yang tak lagi relevan. Nilai-nilai ini seolah tak mampu lagi mengimbangi perubahan zaman yang terus bergerak. Tetapi anehnya, meski banyak yang menyadari hal yang sama, kita semua tetap diam. Seolah ada ketakutan bersama untuk mengakui bahwa kita sudah tak lagi sejalan dengan aturan-aturan itu.

Ada keinginan kuat dalam diriku untuk mendobrak definisi yang dipaksakan ini, untuk menempuh jalanku sendiri. Aku ingin melepaskan diri dari belenggu standar yang tak lagi kukenal, mengikuti apa yang menurutku benar meski mungkin berbeda dari apa yang dikatakan orang lain. Namun, rasa takut selalu menyusup di sela-sela pikiranku. Takut dikucilkan, takut dianggap salah, dan yang paling menakutkan, takut kehilangan tempatku di tengah masyarakat. Rasanya seperti berdiri di ambang jurang; satu langkah ke depan berarti kebebasan, tetapi juga bisa berarti kesendirian.

Aku bertanya-tanya, sampai kapan kita harus hidup dengan aturan yang tidak lagi mencerminkan siapa kita sebenarnya? Sampai kapan kita harus takut menjadi diri sendiri hanya karena takut dikucilkan? Aku tahu jawabannya ada di dalam diriku, tapi masih ada rasa gentar untuk menempuh jalan yang tak beraspal ini.