Sekolah di Rumah
𝗗𝗶𝘀𝗰𝗹𝗮𝗶𝗺𝗲𝗿, aku bukan praktisi di bidang pendidikan, bukan pengamat pendidikan, bukan juga mahasiswa fakultas pendidikan. Ini hanya sekedar keresahanku terhadap fenomena sosial yang ku tuangkan dalam bentuk tulisan. So, take everything I said with a grain of salt.
Aku mulai tersadar kalau belakangan ini, makin banyak orang tua yang memilih untuk homeschooling anaknya di rumah. Alasannya macem-macem, ada yang ngerasa sekolah formal udah nggak sesuai sama gaya belajar anaknya, atau mungkin ada juga yang ngerasa sistem pendidikan sekarang terlalu kaku dan terlalu banyak beban. Tapi, yang jelas, homeschooling makin diminati, terutama di kalangan orang tua millennial.
Kalo dilihat dari sisi manfaatnya, homeschooling emang punya kelebihan. Salah satunya, fleksibilitas. Anak bisa belajar sesuai dengan kecepatan dan minat mereka sendiri. Misalnya, kalo anak lebih suka sains daripada matematika, ya, fokusnya ke sains dulu. Homeschooling juga nggak ada tekanan buat ngejar nilai atau ranking, jadi anak bisa lebih bebas belajar tanpa ngerasa stress. Terus, orang tua juga punya kontrol penuh atas apa yang anak pelajari. Kalo di sekolah formal, kurikulumnya, kan, udah ditentuin dan kadang nggak cocok sama kebutuhan atau minat anak.
Tapi, ya, homeschooling juga punya kekurangan. Salah satunya, anak jadi kurang pengalaman dalam bersosialisasi. Di sekolah formal, anak ketemu banyak orang, baik temen sekelas, guru, bahkan orang-orang di luar kelas. Mereka belajar gimana caranya berkomunikasi, kerja sama, mengatasi konflik, dan lain-lain. Ini penting buat perkembangan kemampuan sosial mereka. Sementara di homeschooling, interaksi sosialnya terbatas. Emang, sih, bisa aja orang tua ngajak anak ikut kegiatan di luar rumah biar mereka tetap ketemu orang lain, tapi nggak bisa disamain sama suasana di sekolah yang lebih majemuk dan rame tiap hari.
Selain itu, sekolah formal juga membantu anak mengembangkan kemampuan untuk disiplin. Ada aturan yang harus diikuti, ada jadwal tetap yang harus ditaati. Hal-hal kayak gini melatih anak agar lebih terstruktur dan bertanggung jawab. Homeschooling emang fleksibel, tapi kadang justru karena terlalu bebas, anak jadi nggak punya sense of time management and responsibility.
Nggak bisa dibantah, sih, kalau homeschooling punya banyak kelebihan, terutama dari segi fleksibilitas dan pendekatan secara personal. Tetapi, tetap aja ada hal-hal penting yang cuma bisa didapat dari sekolah formal. Guruku dulu pernah bilang, kalau sebenarnya sekolah itu penting bukan karena mata pelajaran yang diajarkan, tetapi dari lingkungan sekolah yang secara tidak langsung memaksa anak untuk memiliki kemampuan sosial, kemampuan bekerja sebagai tim, dan kemampuan mengatasi konflik interpersonal antar sesama manusia. Skill-skill yang sebenarnya krusial bagi kehidupan anak saat mereka dewasa nanti.