Transaksional
Ngomongin masalah cinta lagi, sih. Menurutku, cinta itu sebenarnya perasaan yang transaksional antara dua orang. Terdengar kasar mungkin, tapi begini cara aku melihatnya. Cinta selalu melibatkan semacam pertukaran: entah itu perasaan, perhatian, atau bahkan waktu. Saat aku mencintai seseorang, aku ingin merasakan balasan yang sepadan—setidaknya dalam bentuk kasih sayang atau kehadiran. Jika semua yang aku beri tidak pernah kembali, lama-lama aku merasa hampa.
Ada kalanya aku menganggap cinta sebagai proses memberi dan menerima. Ketika aku memberikan perasaanku, ada harapan bahwa dia akan memberikan hal yang sama, meski caranya berbeda. Kalau tidak, cinta itu perlahan-lahan mulai terasa berat sebelah, dan mungkin itu yang membuat hubungan bisa retak. Aku tidak bicara soal cinta yang materialistis, tapi cinta yang seimbang. Di dalam hati kecilku, aku yakin bahwa kita semua punya kebutuhan untuk dicintai kembali, agar perasaan cinta itu terus hidup dan tidak hanya bertahan sebelah pihak.